Mental atau faktor psikologis agaknya menjadi salah satu faktor yang ikut berperan dalam meraih keberhasilan dalam trading forex. Bahkan bagi sebagian kalangan, mental dianggap sebagai faktor utama. Walaupun pendapat ini tak seratus persen benar (karena masih banyak faktor yang lebih dominan seperti; kemampuan analisa, ketetapan memilih posisi entry , managment dan lain-lain) tetapi mental memang memiliki peran yang cukup signifikan. Tak jarang kemampuan trading yang cukup baik ketika praktik menggunakan acc demo tiba-tiba berantakan ketika menggunakan acc real. Kemampuan analisa yang sebelumnya cukup bagus tiba-tiba lenyap tak berbekas, seakan tak ada lagi teknik apapun yang membekas. Akibatnya kerugian yang fatal pun tidak bisa dihindari. Inilah, setidaknya, lima sikap mental yang harus dimiliki oleh (calon) trader/investor supaya kemungkinan untuk berhasil di trading forex lebih besar.
“Pembuat Aturan” atau “Pelanggar Aturan”
Kebebasan itu paradoks. Artinya semakin orang ingin bebas, semakin pula dia harus mematuhi serangkaian aturan. Hidup ini penuh dengan aturan mulai kita kecil harus mematuhi aturan orang tua, aturan sekolah, aturan berkendara, juga aturan-aturan/hukum negara. Kita harus mematuhinya agar hidup kita teratur dan bebas. Apa jadinya jika kita melangggar aturan tersebut, tentu kebebasan kita yang menjadi taruhannya. Atau setidaknya mengganggu kebebasan orang lain.
Trading forex juga mensyaratkan kita mematuhi serangkaian aturan. Apapun yang kita pelajari terkait forex tidak lebih adalah untuk mengerti aturan-aturan yang berlaku di bisnis ini. Dalam analisis fundamental terdapat banyak sekali aturan-aturan berupa berita-berita ekonomi. Jika demand meningkat maka mata uang akan menguat, misalnya. Juga dalam analisis teknikal. kita belajar membaca grafik, mengenali pola candlestick, rumus-rumus Fibonacci, belajar indikator teknis dan lain-lain itu semua adalah aturan-aturan yang harus dipahami. Membuat trading plan, menyusun strategi dan teknik trading adalah contoh-contoh dari bentuk aturan yang lain. Tapi apalah artinya mempelajari dan membuat aturan-aturan itu semua jika pada dasarnya kita adalah “pelanggar aturan’? Akan menjadi sia-sia jika semua itu akan dilanggar, bukan? Pastikan kita memiliki sikap mental “pembuat aturan” dan berkomitmen tinggi untuk mematuhinya. Trader sukses adalah mereka yang memegang aturan dan menerapkannya dalam trading. Sebaliknya, kegagalan banyak disebabkan kurangnya komitmen ‘to follow the rule’.
“Pendengar yang Baik” atau “Pendengar yang Buruk”
Apakah kita suka menyela pembicaraan orang lain? Menginsterupsi orang yang sedang menceritakan sesuatu sehingga dengan demikian merusak topik pembicaraan? Jika ya, saran saya sebaiknya hati-hati. Kebiasaan tersebut bisa terbawa kedalam trading habit dan menimbulkan resiko yang kurang bagus.
Pada saat kita trading, sebenarnya kita sedang mendengarkan sebuah cerita. Yaitu “the market story” yang diceritakan oleh grafik. Dia berbicara mengenai keadaan pasar, psikologi pasar, kondisi kekuatan buyer dan seller, yang semua itu harus kita dengarkan baik-baik. Kita harus mampu menangkap cerita-ceritanya supaya kita paham apa yang terjadi di pasar. Menjadi pendengar yang baik berarti kita memfokuskan pada apa yang sedang kita hadapi, yaitu market. Tanpa mampu memfokuskan saya adalah mustahil kita bisa sukses di bisnis ini, atau juga dibisnis yang lain.
“Mengendalikan Emosi” atau “Dikendalikan Emosi”
Orang-orang sukses dibidang keuangan selalu mampu mengambil keputusan bisnisnya tanpa melibatkan emosinya. Boleh percaya atau tidak, bisnis yang sukses tak lebih adalah membuat keputusan tanpa emosional dan menjalankannya yang secara ekonomi masuk akal. Sebaliknya kegagalan bisnis bisa terjadi berawal dari keputusan-keputusan yang tidak masuk akal dan sangat emosional. Ambil contoh, dengan tetap mempertahankan karyawan yang tidak produktif hanya karena kita menyukainya tentu akan menimbulkan dampak sosio-ekonomi yang tidak baik dan beresiko, bukan?.
Terlebih lagi dalam trading forex. Ada satu jargon bahwa musuh kita trading adalah diri kita sendiri. Maksudnya tak lain adalah emosi kita. Trading yang didorong karena kita “suka” trading, atau masuk posisi karena mental ingin balas dendam atas kerugian sebelumnya tentu sangat riskan. Trader profesional dituntut untuk mampu dan terbiasa mengambil keputusan yang cerdas, logis, dan tanpa emosional. Jika kita dikendalikan oleh emosi saat trading, tentu kemungkinan kehilangan uang akan sangat besar. Trader yang berhasil selalu mampu mengendalikan emosinya, sebaliknya trader yang gagal selalu dikendalikan oleh emosinya.
“Takut Berbuat Salah” atau “Mentoleransi Kesalahan”
Semua orang membuat kesalahan, tapi orang bijaksana selalu belajar dari kesalahan. Kesalahan menunjukan pada kita bagian mana yang perlu diperbaiki. Tanpa kesalahan, mustahil kita bisa tahu kekurangan kita. Tahukah kita kesalahan terbesar dalam hidup? Yaitu saat kita menghindari situasi yang mungkin kita akan berbuat salah. Orang kuat adalah mereka yang berani mengambil keputusan meskipun ada resiko berbuat salah. Orang kuat lebih banyak membuat kesalahan daripada orang lemah. Orang kuat siap berbuat salah, mentertawakannya, belajar darinya, dan menjadi semakin kuat karenanya.
Dalam trading forex, tidak ada satu orangpun yang selalu benar dalam menganalisis pasar. Resiko kesalahanpun terasa perih karena itu artinya kerugian investasi. Tapi trader profesional tahu apa yang harus dilakukan dengan kesalahan demi kesalahan yang terjadi. Dia belajar dan memperbaiki strateginya tradingnya. Kesalahan adalah guru karenanya harus disikapi sedemikian rupa sehingga tidak justru membuat kita depresi dan putus asa. Jika kita sudah siap untuk mentoleransi kesalahan trading, maka itu akan menjadi modal yang sangat berharga untuk mencapai keberhasilan di bisnis ini.
“Fokus Masa Depan” atau “Fokus Masa Lalu”
Pernahkah kita kehilangan sesuatu? Maksud saya sesuatu yang sangat berharga dalam hidup, yang terjadi akibat kesalahan sendiri? Saya yakin setiap orang pernah mengalaminya, dalam takaran yang berbeda-beda. Mungkin berupa uang, orang yang dicintai, properti, kesempatan, dan lain sebagainya. Tidak masalah. Yang menjadi masalah adalah berapa lama waktu terbuang untuk menyesali kesalahan tersebut. Seberapa parah kita dirundung penyesalan dengan terus berandai-andai jika tidak begini jika tidak begitu. Jika kita mempunyai sikap mental seperti saran saya adalah jangan mencoba investasi di forex, karena tidak cocok.
Diantara sepuluh kali trading bisa jadi tiga atau empat kali kita salah, dan berakibat kerugian yang tidak kecil. Trader yang berhasil selalu mampu melepaskan diri dari sikap menyesali masa lalu. Dia akan kembali fokus ke trading berikutnya. Menatap masa depan. Tanpa dibebani mental berandai-andai yang tidak perlu, malah jika itu terjadi bisa membahayakan trading berikutnya.
Kebebasan itu paradoks. Artinya semakin orang ingin bebas, semakin pula dia harus mematuhi serangkaian aturan. Hidup ini penuh dengan aturan mulai kita kecil harus mematuhi aturan orang tua, aturan sekolah, aturan berkendara, juga aturan-aturan/hukum negara. Kita harus mematuhinya agar hidup kita teratur dan bebas. Apa jadinya jika kita melangggar aturan tersebut, tentu kebebasan kita yang menjadi taruhannya. Atau setidaknya mengganggu kebebasan orang lain.
Trading forex juga mensyaratkan kita mematuhi serangkaian aturan. Apapun yang kita pelajari terkait forex tidak lebih adalah untuk mengerti aturan-aturan yang berlaku di bisnis ini. Dalam analisis fundamental terdapat banyak sekali aturan-aturan berupa berita-berita ekonomi. Jika demand meningkat maka mata uang akan menguat, misalnya. Juga dalam analisis teknikal. kita belajar membaca grafik, mengenali pola candlestick, rumus-rumus Fibonacci, belajar indikator teknis dan lain-lain itu semua adalah aturan-aturan yang harus dipahami. Membuat trading plan, menyusun strategi dan teknik trading adalah contoh-contoh dari bentuk aturan yang lain. Tapi apalah artinya mempelajari dan membuat aturan-aturan itu semua jika pada dasarnya kita adalah “pelanggar aturan’? Akan menjadi sia-sia jika semua itu akan dilanggar, bukan? Pastikan kita memiliki sikap mental “pembuat aturan” dan berkomitmen tinggi untuk mematuhinya. Trader sukses adalah mereka yang memegang aturan dan menerapkannya dalam trading. Sebaliknya, kegagalan banyak disebabkan kurangnya komitmen ‘to follow the rule’.
“Pendengar yang Baik” atau “Pendengar yang Buruk”
Apakah kita suka menyela pembicaraan orang lain? Menginsterupsi orang yang sedang menceritakan sesuatu sehingga dengan demikian merusak topik pembicaraan? Jika ya, saran saya sebaiknya hati-hati. Kebiasaan tersebut bisa terbawa kedalam trading habit dan menimbulkan resiko yang kurang bagus.
Pada saat kita trading, sebenarnya kita sedang mendengarkan sebuah cerita. Yaitu “the market story” yang diceritakan oleh grafik. Dia berbicara mengenai keadaan pasar, psikologi pasar, kondisi kekuatan buyer dan seller, yang semua itu harus kita dengarkan baik-baik. Kita harus mampu menangkap cerita-ceritanya supaya kita paham apa yang terjadi di pasar. Menjadi pendengar yang baik berarti kita memfokuskan pada apa yang sedang kita hadapi, yaitu market. Tanpa mampu memfokuskan saya adalah mustahil kita bisa sukses di bisnis ini, atau juga dibisnis yang lain.
“Mengendalikan Emosi” atau “Dikendalikan Emosi”
Orang-orang sukses dibidang keuangan selalu mampu mengambil keputusan bisnisnya tanpa melibatkan emosinya. Boleh percaya atau tidak, bisnis yang sukses tak lebih adalah membuat keputusan tanpa emosional dan menjalankannya yang secara ekonomi masuk akal. Sebaliknya kegagalan bisnis bisa terjadi berawal dari keputusan-keputusan yang tidak masuk akal dan sangat emosional. Ambil contoh, dengan tetap mempertahankan karyawan yang tidak produktif hanya karena kita menyukainya tentu akan menimbulkan dampak sosio-ekonomi yang tidak baik dan beresiko, bukan?.
Terlebih lagi dalam trading forex. Ada satu jargon bahwa musuh kita trading adalah diri kita sendiri. Maksudnya tak lain adalah emosi kita. Trading yang didorong karena kita “suka” trading, atau masuk posisi karena mental ingin balas dendam atas kerugian sebelumnya tentu sangat riskan. Trader profesional dituntut untuk mampu dan terbiasa mengambil keputusan yang cerdas, logis, dan tanpa emosional. Jika kita dikendalikan oleh emosi saat trading, tentu kemungkinan kehilangan uang akan sangat besar. Trader yang berhasil selalu mampu mengendalikan emosinya, sebaliknya trader yang gagal selalu dikendalikan oleh emosinya.
“Takut Berbuat Salah” atau “Mentoleransi Kesalahan”
Semua orang membuat kesalahan, tapi orang bijaksana selalu belajar dari kesalahan. Kesalahan menunjukan pada kita bagian mana yang perlu diperbaiki. Tanpa kesalahan, mustahil kita bisa tahu kekurangan kita. Tahukah kita kesalahan terbesar dalam hidup? Yaitu saat kita menghindari situasi yang mungkin kita akan berbuat salah. Orang kuat adalah mereka yang berani mengambil keputusan meskipun ada resiko berbuat salah. Orang kuat lebih banyak membuat kesalahan daripada orang lemah. Orang kuat siap berbuat salah, mentertawakannya, belajar darinya, dan menjadi semakin kuat karenanya.
Dalam trading forex, tidak ada satu orangpun yang selalu benar dalam menganalisis pasar. Resiko kesalahanpun terasa perih karena itu artinya kerugian investasi. Tapi trader profesional tahu apa yang harus dilakukan dengan kesalahan demi kesalahan yang terjadi. Dia belajar dan memperbaiki strateginya tradingnya. Kesalahan adalah guru karenanya harus disikapi sedemikian rupa sehingga tidak justru membuat kita depresi dan putus asa. Jika kita sudah siap untuk mentoleransi kesalahan trading, maka itu akan menjadi modal yang sangat berharga untuk mencapai keberhasilan di bisnis ini.
“Fokus Masa Depan” atau “Fokus Masa Lalu”
Pernahkah kita kehilangan sesuatu? Maksud saya sesuatu yang sangat berharga dalam hidup, yang terjadi akibat kesalahan sendiri? Saya yakin setiap orang pernah mengalaminya, dalam takaran yang berbeda-beda. Mungkin berupa uang, orang yang dicintai, properti, kesempatan, dan lain sebagainya. Tidak masalah. Yang menjadi masalah adalah berapa lama waktu terbuang untuk menyesali kesalahan tersebut. Seberapa parah kita dirundung penyesalan dengan terus berandai-andai jika tidak begini jika tidak begitu. Jika kita mempunyai sikap mental seperti saran saya adalah jangan mencoba investasi di forex, karena tidak cocok.
Diantara sepuluh kali trading bisa jadi tiga atau empat kali kita salah, dan berakibat kerugian yang tidak kecil. Trader yang berhasil selalu mampu melepaskan diri dari sikap menyesali masa lalu. Dia akan kembali fokus ke trading berikutnya. Menatap masa depan. Tanpa dibebani mental berandai-andai yang tidak perlu, malah jika itu terjadi bisa membahayakan trading berikutnya.





